Hasrat untuk Ikut Membangun Bangsa dengan Senyum Gembira: Meniti Karya Emas
February 2, 2007 at 4:21 am | In Membangun Bangsa dengan Senyum Gembira | 2 CommentsSejarah senantiasa mencatat karya emas anak manusia. Karya tersebut tercatat dalam sebuah lembaran yang mengisahkan keberhasilan, kegemilangan, dan kontribusi besar, sosok manusia ataupun sekelompok orang yang mampu membawa perubahan dalam sejarah peradaban manusia.
Sayangnya, sejarah jarang sekali mencatat bagaimana karya emas tersebut dihasilkan. Tidak banyak orang tahu, awal dari sebuah kisah sejarah yang gemilang tersebut.
Thomas A. Eddison dan Albert Einstein
Thomas A. Eddison dalam percobaannya yang ke 5000, akhirnya berhasil menemukan lampu bohlam yang mampu menyala hanya sekitar 5 menit. 4999 percobaan sebelumnya dia telah banyak mengalami kegagalan. Saat tetangga-tetangganya memuji Tom dengan mengatakan, “Tom, you finally find the way..!”. Tom dengan serius menjawab, “I probably find one way to make it work, but don’t you know, I also find 4999 ways to make it fail.”
Albert Einstein, penemu teori relativitas, menangis saat salah satu penemuannya digunakan untuk mengenyahkan puluhan ribu jiwa pada PD II. Sehebat apapun penemuan itu, dia menyatakan, jika hal tersebut lebih banyak mendatangkan malapetaka, maka hal tersebut tidak mendatangkan manfaat sama sekali bagi manusia.
Saat mengunjungi kampusnya di Berlin tahun lalu, memori tentang Al, tercatat dengan cukup baik di sana. Sebagai profesor di University of Berlin, Al menenyempurnakan teori relativitasnya, sebelum akhirnya dia pindah ke Jerussalem atas permintaan pemerintah Israel. Di Jerussalem inilah, dia menulis buku “Why War?”, yang merupakan bentuk protesnya atas pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki. Hal tersebut lebih menyedihkan daripada masa lalunya, di mana Al lebih dikenal sebagai anak yang paling sering mendapat nilai “F” untuk pelajaran aljabar saar dia duduk di Elementary School.
Panggil Saja Dia “Hatta”
Sebuah kisah lagi, dari salah seorang founding father kita. Moch. Hatta. Jika orang lebih banyak menyebut Soekarno dalam sejarah Indonesia, sejarah juga menacatat seorang Hatta sebagai seorang negarawan besar. Duetnya bersama Soekarno dalam awal-awal kemerdekaan RI, disebut sebagai duet terkuat pemerintahan. Padahal intrik yang terjadi antara Soekarno dan Hatta, tidaklah semulus yang tercatat dalam sejarah.
Perbedaan dua pemimpin ini, sudah berawal dari sejak sebelum kemerdekaan. Hatta berasal dari keluarga cendikia dan belajar dari cendikiawan seperti K.H. Agus Salim, mempunyai pemikiran yang lebih moderat karena dia mengenyam pendidikan di luar negeri. Sedangkan Soekarno memiliki pemikiran yang lebih eksotis dan merakyat, cenderung mengedepankan karisma dan pendekatan persuasif kepada rakyat. Ketika Soekarno dengan pendiriannya tersebut, menghadapi kemajemukan Indonesia, prinsipnya yang ingin selalu mengakomodir semua kepentingan dinetralkan oleh pemikiran Hatta yang lebih rasional. Meskipun demikian, Hatta dalam sejarah tidak pernah sekalipun mengincar kedudukan Soekarno dalam memimpin Indonesia, begitu juga Soekarno selalu memberikan kepercayaan penuh kepada Hatta.
Dalam sebuah pertemuan cendikiawan di Malang, Hatta yang waktu itu dicecar dengan konflik yang terjadi di Indonesia, dengan berapi-api membela Soekarno, padahal Hatta dikenal sebagai pribadi yang tidak terlalu banyak bicara. Benar-benar pembelaan seorang sahabat. Hatta sebagai negarawan akhirnya mundur sebagai wakil presiden, ketika perbedaannya dengan Soekarno, dia rasakan sebagai penghambat kemajuan Indonesia. Dan duet ini berpisah dengan damai, dan tetap menjalin silaturahmi.
Yang tidak banyak dicatat dalam sejarah, adalah penderitaan Hatta sebagai seorang buangan di Digul, tetap menolak tawaran pemerintah Belanda, untuk membayarnya memimpin perkebunan di sana. Alih-alih mengambil tawaran tersebut, Hatta lebih memilih menulis untuk koran Indonesiche Verenidge dan megusahakan pekebunan bagi rakyat.
Untuk Apa Masa Mudamu?
Dari sekian banyak biografi tokoh yang ada, mereka tercatat karena memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi perubahan umat manusia. Karya mereka dirasakan oleh orang-orang di sekitar mereka, bahkan lebih luas lagi, bangsa, negara, dunia, bahkan masa setelah kehidupan mereka. Terdapat ciri kecil persamaan pencapaian mereka, yang tidak banyak orang mau mengetahuinya. Hal tersebut adalah usaha, jerih payah, pengorbanan, penderitaan, semangat, dan keinginan kuat untuk maju.
Saya jadi teringat majalah Tempo edisi akhir tahun, yang saya beli pada saat bulan madu saya di sebuah hotel di Surabaya. Edisi ini secara khusus membahas “10 Orang yang Mengubah Indonesia”. Salah satu di antaranya, adalah Hendy Setiono, teman dari salah seorang teman yang sukses dengan franchise-nya Kebab Turki Baba Rafi. Tetapi yang menyita perhatian saya adalah prestasi seorang Profesor Muda dari Indonesia di sebuah perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat, Wisconsin-Madison.
Di tengah usaha saya menyelesaikan Tugas Akhir saya di ITS Surabaya, dengan sangat iseng saya mengirim sebuah email singkat kepada orang ini, dia bernama Nelson Tansu. Namanya sempat tercantum di sebuah koran lokal Jawa Timur ketika itu, dengan mencantumkan alamat emailnya. Di luar dugaan saya, email tersebut dibalas dalam campuran bahasa Indonesia dan Inggris. Beberapa patah kata yang dia tulis mampu membangkitkan semangat saya, yang saat itu menghadapi permasalahan yang cukup pelik. Isi email itu di antaranya adalah sebagai berikut: …. Saya sebenarnya cuma orang Indonesia yang biasa, and sama dengan
banyak orang Indonesia lain-nya. Cuma saya akui bahwa : I work extremely
hard, and I have extremely strong self-motivation that drives me to
pursue the excellence in all the tasks that I do. Other than those, I am
just a regular person!… Hal ini berlawanan dengan prinsip yang dianut oleh sebagian besar pemuda di negeri ini, yang selalu mengatakan “mumpung masih muda, waktunya bersenang-senang”. Jika kita melihat apa yang telah dihasilkan orang-orang tersebut di atas, maka saya lebih sering bertanya pada diri sendiri, ”Apa saja yang telah aku lakukan selama ini…”
Manusia yang Memberikan Manfaat
Pada saat seseorang mengambil jalan ini, memang akan ada hal yang nantinya akan dikorbankan. Bisa harta, kehidupan sosial, bahkan nyawa. Dan semua hal itu menuntut pengorbanan. Tapi jika semua itu akan memberikan manfaat bagi sesama manusia, pengorbanan yang telah dilakukan tidak akan terasa sia-sia. Bahkan Muhammad SAW mengatakan, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang mampu memberikan manfaat bagi sesamanya.
Jika pun nantinya pengorbanan yang dilakukan tidak tercatat dalam sejarah emas dunia, ataupun arsip nasional, atau buku sejarah SD, semua karya ini tetap memberikan manfaat bagi orang banyak dan memberikan amalan yang hanya Tuhan yang bisa menilainya. Keikhlasan dalam berbuat akan terbayar dengan buih-buih manfaat yang dihasilkan tanpa mengenal pamrih dan maksud tertentu.
2 Comments »
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

assalamu alaikum wr.wb.
sy faturrahman 25 tahun, saya ingin menjalin kerja sama membangun kota medan,jk ada yang bs bantu saya dan team kerja saya,tolong hubungi ke email trsbt dan 08126571481
Comment by faturrahman — February 10, 2007 #
Silahkan berkorespondensi lewat dedhi.udiyarsa@gmail.com.
Terima kasih atas kunjungannya, Mas Faturrahman. Salam kenal.
Comment by udiyarsa — February 11, 2007 #