Hasrat untuk Ikut Membangun Bangsa dengan Senyum Gembira: Kesadaran Peran dan Fungsi
February 11, 2007 at 4:13 pm | In Membangun Bangsa dengan Senyum Gembira | Leave a CommentManusia dilahirkan dengan anugerah kecerdasan yang berbeda-beda. Beberapa orang sering menyebutnya dengan bakat. Sampai dengan tahun 90an, para orang tua masih beranggapan bahwa kecerdasan seorang anak ditentukan oleh kemampuannya dalam memahami persoalan matematis dan mengahafal.
Memasuki abad ke-21, semakin banyak orang yang menyadari bahwa, dalam kehidupan ini, tidak hanya memerlukan manusia-manusia yang cerdas (menurut anggapan tahun 90an).
Kecerdasan Manusia
Saat ini para ahli cenderung untuk membagi kecerdasan manusia. Mereka menyatakan bahwa, kecerdasan manusia tidak hanya berdasar kepada kemampuan mereka menyelesaikan persoalan numeris maupun mengingat setiap kata yang ada di dalam buku yang mereka baca.
Dr. Howard Gardner menggolongkan kecerdasan manusia dalam 7 kategori. 7 kecerdasan tersebut adalah:
1. Kecerdasan Verbal
Sering disebut kecerdasan bahasa. Seseorang yang memiliki kecerdasan ini, mempunyai kemampuan dalam bentuk lisan maupun tulisan dalam mengungkapkan pemikirannya.Kecerdasan seperti ini biasanya dimiliki seorang penulis, wartawan, dan guru.
2. Kecerdasan Rupa
Kecerdasan ini berkaitan dengan daya imajinasi seseorang dalam mengungkapkan bentuk dan gambar. Biasanya dikaitkan juga dengan kreatifitas seseorang.
3. Kecerdasan Musikal
Kepekaan sesorang meninterpretasikan bunyi-bunyian ditentukan oleh kecerdasan ini. Tentu saja kecerdasan seperti ini dimiliki oleh para musisi dan pencipta lagu.
4. Kecerdasan Motorik
Kecerdasan motorik menentukan kemampuan seseorang dalam mengendalikan tubuhnya. Jika seseorang mempunyai kecerdasan ini, mereka cenderung tangkas dalam menirukan gerak, dan mengontrol pergerakan tubuh mereka sendiri. Biasanya para penari dan olahragawan memiliki kecerdasan semacam ini.
5. Kecerdasan Matematis
Jangan terjebak oleh nama kecerdasan matematis, karena selain cerdas dalam hal-hal numerik, orang-orang yang memiliki kecerdasan ini biasanya juga tanggap dalam menganalisa permasalahan. Tipe seperti ini lebih cenderung untuk berpikir mengedepankan logika.
6. Kecerdasan Sosial
Seseorang yang memiliki kecerdasan ini, memiliki kepekaan terhadap lingkungan di sekitarnya. Mereka memiliki empati tinggi dan terkadang mampu membaca karakter dan pikiran seseorang.
7. Kecerdasan Pribadi
Kecerdasan pribadi berkaitan dengan kemampuan seseorang mengendalikan diri dan emosinya. Orang-orang dengan tipe kecerdasan ini, mampu melihat kekurangan dan kelebihannya secara nyata, dan menempatkan diri dalam kekuatannya sendiri.
Pada dasarnya setiap orang tidak hanya memiliki salah satu kecerdasan di atas. Tidak menutup kemungkinan seseorang memiliki lebih dari dua macam kecerdasan, yang dikombinasikan dalam diri mereka. Dan tentu saja anugerah seperti ini tidak sama bagi setiap orang.
Memanfaatkan Kecerdasan dalam Diri Manusia
Seperti yang diungkapkan di atas, manusia bisa memiliki lebih dari satu kecerdasan dalam diri mereka. Tetapi banyak yang tidak menyadarinya. Sebenarnya tidak diperlukan kemampuan khusus untuk mengetahui kecerdasan yang dimiliki oleh diri kita sendiri.
Tipe kecerdasan seseorang sering dikaitkan dengan minat seseorang dalam suatu hal. Secara naluriah seseorang cenderung akan merasa menikmati jika berada dalam lingkungan yang menunjang minatnya. Minat ini biasanya didasari atas kecerdasan yang dimiliki oleh setiap manusia.
Melalui beberapa tes yang harus dilakukan, kecerdasan yang dimiliki setiap orang bisa dilihat degan bantuan seorang psikolog,. Dari tes tersebut akan diketahui, kecerdasan tipe mana saja yang dimiliki oleh seseorang.
Dengan mengetahui minat dan bakat dalam diri masing-masing, akan cukup mudah bagi seseorang untuk menentukan bidang yang akan dipilih. Tentu saja kecerdasan yang ada dalam setiap individu perlu untuk terus diasah dan dikembangkan untuk mencapai hasil yang maksimal.
Tidak akan lengkap bagi seseorang, jika dalam menapaki bidang yang dipilihnya, tidak disertai pencapaian atas hasil usahanya. Tolok ukur keberhasilan setiap orang tentu berbeda, dan hal itu ditentukan oleh yang bersangkutan itu sendiri. Meskipun demikian, secara normatif pengakuan orang lain dalam menanggapi keberhasilan seseorang, menjadi salah satu tolok ukur untuk menentukan tingkat keberhasilan. Hal ini tidak berlaku mutlak, tetapi sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan pengakuan manusia lain atas diri mereka, yang menggambarkan bagaimana dia diterima dalam lingkungannya. Dorongan tersebut membuat seseorang untuk membuat pencapaian yang telah dia raih, memberi pengaruh bagi lingkungan disekitarnya.
Aku Seorang Insinyur
Beberapa anekdot serius, menceritakan tentang orang-orang terkaya di dunia. Dalam anekdot tersebut digambarkan bahwa orang tersebut adalah orang-orang yang DO (Drop Out) dari tempat belajarnya. Bill Gate adalah salah seorang yang dimaksud dalam cerita tersebut. Dalam anekdot tersebut, seakan-akan moral dari cerita itu menyarankan seseorang untuk DO dari kuliahnya agar dapat berhasil, bahkan lebih berhasil dari teman-temannya yang berhasil lulus. Anggapan yang bisa menimbulkan persepsi yang keliru, bagi orang-orang yang berpikiran pendek.
Sekarang mari kita lihat dari sudut padang lain. Apakah untuk berhasil kita harus DO? Apakah sebagian besar mahasiswa ataupun siswa yang tidak berhasil menyelesaikan studinya, akan mendapat jaminan lebih berhasil dari teman-temannya? Tapi apakah mahasiswa yang berhasil menyelesaikan studinya dengan gemilang, akan mendapatkan jaminan lebih berhasil dibanding teman-temannya yang hanya lulus sekolah menegah?
Sekali lagi ditegaskan, sebuah keberhasilan bukan hanya dilihat dari sudut pandang seberapa kaya dia, setinggi apa kedudukannya, atau seberapa banyak pengagumnya. Justifikasi keberhasilan terhadap seseorang tidak akan pernah berhenti, jika parameter seperti ini dipertahankan.
Beberapa tahun yang lalu, saya diberi kesempatan untuk mengikuti sebuah pelatihan bisnis. Pesertanya terdiri dari mahasiswa-mahasiswa yang diseleksi dari seluruh penjuru tanah air. Dalam komunitas tersebut, persepsi-persepsi mengenai keberhasilan tiba-tiba menjadi buram.
Yang saya pelajari dari komunitas ini adalah penghargaan mereka terhadap pencapaian masing-masing individu. Tidak semua orang mampu mencapai apa yang telah yang lain capai. Prestasi yang mereka capai berbeda bidang, maka mereka dihadapkan dalam sebuah atmosfer di mana satu sama lain dapat saling belajar dan menghargai. Tidak ada yang merasa lebih berhasil di antara satu dan yang lain, karena persepsi seseorang atas hal tersebut berbeda-beda.
Jika melihat seseorang hanya atas keberhasilan yang dia capai, maka suatu saat jika ditemukan kelemahan atas seseorang tersebut, persepsi atas keberhasilannya akan berubah. Tetapi jika keberhasilan tersebut dilihat atas dasar penghargaan dan usahanya, maka akan bisa diambil pelajaran atas usahanya tersebut. Penilain obyektif akan membawa seseorang untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang.
Seorang teman saya datang kepada saya mengeluhkan mengenai perusahaan yang akan menerima dia. Perusahaan tersebut bernama Mark and Co, yang didirikan oleh seorang pakar marketing ternama, Hermawan Kertajaya. Dia menceritakan bagaimana manajemen perusahaan tersebut tidak sehebat yang dia bayangkan. Penghargaan terhadap sumber daya manusianya diceritakannya sebagai tidak manusiawi, untuk perusahaan sekaliber Mark and Co. Pada akhirnya diungkapkannya bahwa ternyata image Hermawan Kertajaya yang begitu mendunia, tidak sepadan dengan kualitas perusahaan yang dia dirikan.
Memang jika melihat seseorang hanya dari keberhasilannya, dan pada suatu saat menemukan kekurangannya, sikap yang timbul adalah kekecewaan. Pelajaran seorang Hermawan Kertajaya, bahwa dia berhasil membuat sebuah karya nyata dalam karirnya tidak bisa diambil, hanya karena melihat kekurangan dalam perusahaan yang didirikannya.
Sebenarnya jika melihat secara obyektif, setiap contoh bisa kita ambil dari segi positif dan negatifnya. Sisi positifnya bisa dijadikan teladan untuk menginspirasi langkah seseorang. Sedangkan sisi negatifnya dijadikan sebagai pelajaran yang bisa dihindari untuk tidak dilakukan.
Karena itu, pada suatu saat anda memutuskan untuk menjadi seorang politisi dengan bakat dan usaha anda, jangan malu untuk mengatakan “Aku seorang politisi, yang berjuang jujur untuk rakyat”. Jika anda memilih untuk berwirausaha, tidak usah ragu mengatakan “Aku seorang pengusaha, yang berani memulai bisnisku dengan segala resiko”. Ataupun jika anda memilih untuk menjadi seorang insinyur, dengan rendah hati katakanlah “Aku seorang insinyur yang mengabdikan diriku untuk pembangunan umat manusia”.
Jika anda seorang bankir jangan pernah menganggap remeh seorang ulama yang mengabdikan hidupnya membenahi moral manusia. Apabila anda seorang ulama, tanpa dasar yang kuat jangan memandang seorang politisi sebagai orang yang hanya berbicara tanpa ada tindakan. Jika anda seorang politisi, jangan menganggap seorang pengusaha sebagai orang yang bersusah payah hanya untuk mencari keuntungan dari orang lain. Jika anda pengusaha, jangan menganggap seorang insinyur sebagai orang pintar yang diperbudak pemilik perusahaan. Dan jika anda seorang insinyur, jangan menganggap seorang bankir sebagai orang yang selalu mengitung banyak uang, yang bukan miliknya sendiri.
Apa Peran dan Fungsimu?
Setiap orang merintis karyanya dalam jalan yang telah dipilih. Dan jalan tersebut sebaiknya sesuai dengan minat dan bakat yang telah dia miliki. Penentuan jalan tersebut tentunya dengan pertimbangan yang masak dan pemikiran yang mendalam.
Pernahkah anda membayangkan jika dunia ini semuanya berisi pengusaha? Akhirnya jika pengusaha tersebut mencari tenaga kerja, maka dia tidak akan mendapatkan karena semua orang adalah pengusaha. Jika dia sakit tidak ada yang mampu mengoperasi dia, karena semua orang adalah pengusaha.
Setiap orang di dunia ini pasti memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Memang tidak harus peran besar yang dia mainkan, ataupun fungsi penting yang dia jalankan.
Terkadang saya berpikir, untuk apa orang miskin dan gagal ada di dunia ini? Mengapa tidak semaunya saja, orang di dunia ini adalah orang kaya? Atau mengapa tidak semua usaha yang dilakukan setiap orang selalu berhasil?
Balada Pengemis Buta
Seringkali ditemui pengemis di jalan, di bus kota, maupun di rumah-rumah. Pengemis ini biasanya bertampang iba, dan layak untuk dikasihani. Suatu hari saya menumpang busway dari halte Bendungan Hilir. Halte ini sekarang dipindahkan di bawah kolong jembatan yang menuju Cassablanca. Di bawah kolong ini, hampir semua bis yang melewati Jalan Jend. Sudirman berhenti untuk menurunkan atau mencari penumpang. Bisa dibayangkan ramainya tempat ini.
Di tempat ramai seperti ini, biasanya banyak pengemis berkeliaran. Beberapa saat setelah saya turun dari bus kota, saya tidak memutuskan untuk langsung masuk ke dalam halte. Sejenak saya menikmati keramaian yang ada, ketika seorang pengemis buta dengan dituntun seorang ibu setengah baya menghampiri saya. Tidak jelas apa yang dia katakan, tapi dari bahasa tubuhnya sudah bisa ditangkap maksudnya. Segera rupiah dari kantong saya pun berpindah ke tangannya.
Setelah agak puas menikmati keramaian (saat itu sebenarnya saya sedikit penasaran dengan makanan lekker yang dijajakan dengan bersepeda), saya pun memutuskan untuk naik ke halte busway. Dengan sangat kebetulan saya berpapasan lagi dengan pengemis tadi di jalan menuju halte. Mendadak si pengemis tadi berhenti tepat di depan saya, dan saya berpikir dia akan mengulurkan tangannya lagi. Tetapi yang terjadi adalah lain, tangannya meraih sebuah benda ke dalam tasnya yang compang-camping, yang kemudian saya sadari sebagai sebuah telepon genggam.
Saya langsung tersenyum kecut melihat hal tersebut. Ingatan saya langsung teralih pada cerita-cerita tentang sindikat pengemis, yang sebenarnya terdiri dari orang-orang yang bukan tidak mampu. Masih dengan penasaran, saya hentikan langkah saya dengan membeli gorengan yang terletak tak jauh dari situ. Sayup-sayup saya masih bisa mendengar percakapan pengemis itu.
“…baik…lagi ning Benhil…”
“…opo…mlebu maneh?!…kapan?”
“…trus..Yu Xxxx kepriben?”
“…butuhe piro?”
“…lagi ga ono iki…bocah-bocah wis mbayar sekolah?…”
“…wes nganggo dhuwite iku dhisik yo…”
“halo…halo…”
Seperinya telepon terputus dengan tiba-tiba, entah yang menelpon pulsanya habis, atau yang menelpon marah tidak senang dan menutup telepon tiba-tiba, sepertinya saya tidak akan pernah tahu.
Selama perjalanan di dalam bus, saya coba mencoba mengira-ngira isi pembicaraan pengemis tadi. Sepertinya di kampungnya ada seseorang yang sakit, dan sepertinya sudah masuk rumah sakit berkali-kali. Kerabatnya di kampung kekurangan uang untuk membiayai pengobatannya di rumah sakit, dan akhirnya uang pembayaran sekolah “anak-anak” yang digunakan untuk menutup pembiayaan pengobatan.
Ternyata telepon genggam itu bukan simbol kemewahan bagi pengemis tadi. Dengan hidupnya di kolong jembatan, jam kerja yang tidak menentu, dan mobilitas yang tinggi, ternyata dia membutuhkan telepn genggam itu, jika terjadi kasus darurat seperti tadi. Saya yakin Telkom tidak akan memberikan sambungan di rumahnya yang tidak permanen di pinggir-pinggir sungai.
Setiap tahun kota-kota besar seperti Jakarta selalu “dibanjiri” pengemis-pengemis baru yang meramaikan persaingan dengan pengemis-pengemis setempat. Mereka bukan hanya dari golongan tidak mampu saja, tapi bisa jadi dari golongan menengah bawah – ke bawah. Beberapa pengemis ini, bagi sebagian orang sebenarnya tidak layak untuk mengemis. Pertanyaannya adalah, mengapa mereka mengemis, atau untuk apa mereka mengemis, apakah mereka tidak punya keahlian lain selain mengemis?
“Kalo mereka mampu, mereka ga akan mengemis, Dik,” begitu kata Bude saya. Memang jika mereka mampu, mungkin saja mereka tidak mengemis. Mampu di sini bukan dari sisi finansial saja, tetapi juga keterampilan, kekuatan, kecakapan, atau apa pun namanya. Yang jelas jika mereka tidak punya kemampuan pilihannya ada dua, menyerah atau terus berusaha. Jika kita mau menyalahkan kepada pemerintah, kenapa tetap saja banyak penduduk yang tidak memiliki keterampilan yang layak, atau menyalahkan dunia usaha yang terlalu keras dan tidak cukup menyediakan lapangan pekerjaan, maka proses ini akan menjadi sebuah lingkaran setan yang tidak akan pernah bertemu titik penyelesainnya.
Setiap Orang adalah Guru
Pengemis adalah sebuah contoh, dia menjalankan perannya di dunia ini dengan jalannya. Di satu sisi, keberadaan pengemis di mana-mana seakan menjadi jalan pintas untuk beramal. Kapan pun kita ingin beramal, di situ ada pengemis yang siap menerima amal kita. Kita tidak perlu tahu latar belakang mereka. Jika merasa tidak ikhlas memberikan lebih baik simpan rupiah yang ada, sambil berharap si pengemis mendapatkan yang lebih baik dari yang lain.
Pengemis juga menjadi pengingat kita untuk senantiasa selalu berusaha dan giat menjalankan amanah, agar tidak bernasib lebih buruk dari dia. Pengemis membuat orang tua mendidik anaknya agar selalu bersiap menghadapi masa depannya. Pengemis dan orang miskin, seharusnya mampu mengetuk orang-orang kaya untuk tetap mengingat sesamanya, dan tidak berlebihan dalam menggunakan hartanya.
Orang kaya juga tidak selalu menjadi contoh yang positif bagi kita. Ada sisi-sisi di mana pada suatu saat, kita tidak mencontohnya. Setiap orang senantiasa ingin memiliki harta lebih, dan setiap orang yang lebih mampu menjadi pemacu bagi yang lain untuk lebih kaya. Tapi seberapa banyak orang yang berpikir seberapa besar manfaat yang diperoleh orang lain dari kekayaannya itu. Seberapa banyak orang yang sadar, bahwa di antara rezeki yang diterimanya, terdapat hak-hak orang lain seperti anak yatim piatu dan fakir miskin.
Setiap orang adalah guru bagi manusia lain. Dia tidak hanya menjadi contoh yang baik untuk ditiru, tetapi juga menjadi contoh yang buruk untuk dihindari dan pengingat bagi manusia yang lain. Kadang hal-hal yang “mengganggu” tersebut menjadi tantangan bagi orang lain untuk membawa perubahan yang lebih baik. Bisa jadi itulah perannya, dan yang lain pun menjalani perannya masing-masing.
Leadership, Followship, dan Fellowship
Manusia ditakdirkan sebagai khalifa di muka bumi ini. Maka pada dasarnya setiap manusia mememiliki peran sebagai pemimpin. Minimal memimpin dirinya sendiri. Ketika dihadapkan pada komunitas sosial, maka hakikat kepemimpinan manusia bagi setiap manusia menjadi berbeda.
Dewasa ini, banyak sekali latihan leadership yang ditawarkan oleh berbagai lembaga pelatihan. Pelatihan ini menekankan pada pengasahan kemampuan memimpin para pesertanya. Hakikat kepemimpinan sering digeser pada pengertian kekuasaan. Sebuah pengertian keliru, karena saat seseorang mengambil peran sebagai pemimpin maka dia dianggap berkuasa. Identifikasi seperti ini akan mendorong seseorang mengambil perannya sebagai pemimpin, karena dilandasi oleh nafsu berkuasa.
Dalam sebuah kepemimpinan yang diperlukan adalah tanggung jawab dan amanah. Hal ini berbahaya jika sampai dilupakan. Peran seorang sebagai pemimpin bukanlah peran mutlak yang harus diambil setiap manusia terhadap manusia lain. Dalam hal bekerja sama, setiap orang harus menyadari peran dan fungsinya masing-masing.
Dalam sebuah komunitas, tim, maupun organisasi kepimimpinan adalah penting. Tapi jika kepemimpinan ini tidak diikuti suatu followship maka organ dalam sekumpulan orang tersebut akan berjalan dengan tidak sebagaimana mestinya.
Followship tidak diartikan sebagai keikutsertaan buta. Keikutsertaan dalam sebuah kumpulan seharusnya disertai dengan kesadaran peran dan fungsi masing-masing. Jika setiap orang mampu menempatkan dirinya dalam posisi berdasarkan kualifikasi yang dia miliki, dan tidak memaksakan kehendaknya, maka sebuah kerja sama dan interaksi setiap orang, akan menjadi lebih baik. Dengan demikian setiap orang telah menjadi pemimpin bagi dirinya masing, dalam mencapai tujuan bersama.
Hal ini bisa saja berbeda dalam sebuah perkumpulan yang didasakan atas persaudaraan. Di mana hampir setiap orang yang sama, melakukan berbagai aktifitas yang berbeda-beda. Prinsip dalam sebuah fellowship adalah tidak ada kepemimpinan yang mutlak. Setiap orang bisa menjadi pemimpin dalam hal yang berbeda, jika memang dirasakan perlu. Artinya di sini setiap orang mempunyai kesempatan atau memiliki tanggung jawab lebih untuk setiap keadaan yang berbeda.
Pemahaman memimpin dan dipimpin sebenarnya tidaklah serumit yang dibayangkan. Ketika setiap manusia menyadari posisinya masing-masing dan mampu memberikan konstribusi sesuai dengan kemampuan dan kompetensinya secara maksimal, maka dengan kata lain dia telah memmpin dirinya sendiri dan memberikan manfaat bagi sesamanya. Tidak perlu memperebutkan apa yang disebut sebagai kekuasaan.
No Comments Yet »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
