Tekad dan Mimpi: “Antara Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, dan Taiko”

March 22, 2008 at 8:00 pm | In Membangun Bangsa dengan Senyum Gembira | 3 Comments

Prolog

Tulisan ini bukan bermaksud untuk memberikan resensi terhadap ketiga judul buku di atas. Kata-kata yang mengalir dalam tulisan ini, lebih menggambarkan kesemerawutan prinsip berpikir yang saya alami, setelah teracuni oleh ketiga buku di atas. Bukan karena dua judul yang disebut pertama adalah karya fenomenal penulis Indonesia modern, tetapi kesemerawutan yang muncul disebabkan karena keminderan atau lebih tepatnya ke-malu-an (sengaja diberi tanda hubung agar tidak diasosiasikan dengan kata benda lain) saya akan nilai-nilai yang dikandung ketiga buku di atas.

Dalam insomnia malam saya yang ketiga di bulan ini, akhirnya kegalauan ini saya beranikan untuk dikonfrontasikan lewat tulisan, sambil melatih kembali struktur berpikir saya, yang telah dihancurkan dalam 5 hari kerja seminggu oleh manual-manual, planning guideline, dan product catalogue.

Laskar Pelangi by Andrea Hirata

Dari tiga tulisan sastra bebas yang ditulis oleh Andrea Hirata, mungkin banyak orang yang setuju dengan saya, kalau Laskar Pelangi-lah yang merupakan karya “sebenarnya” Hirata. Dua tulisan kelanjutannya, walaupun tidak kalah menariknya dengan Laskar Pelangi, ditulis dengan gaya yang sama sekali berbeda dengan masterpiece Laskar Pelangi.

Sang Pemimpi ditulis dengan gaya mirip cerita Lupus, tetapi jauh lebih berkelas dari sisi makna dan nilai. Sedangkan Edensor ditulis dengan gaya bertutur mirip dengan novel Forest Gump.

Jika banyak orang terinspirasi oleh sosok Bu Muslimah atau Lintang, yang begitu mempesona (bahkan bagi Andrea Hirata sendiri), saya sendiri lebih memilih untuk menyelami karakter Ikal. Karena pada dasarnya tokoh ini adalah sang penulis sendiri.

Dalam Laskar Pelangi sangat terlihat bahwa Andrea ingin mengedepankan tokoh sang Guru dan sang Sahabat, dan sedikit malu untuk mengeksplor dirinya sendiri. Hal yang sama sekali berbeda pada buku kedua dan ketiganya. Hirata lebih berani menggambarkan siapa dirinya.

Saat membaca buku kedua dan ketiga, saya sempat berpikir bahwa tampaknya Hirata ingin membanggakan pengalamannya, yang extra-ordinary itu, untuk menegaskan siapa dia di buku pertamanya. Dalam sebuah artikel di tabloid Gatra, anggapan saya mulai agak terhapus, ketika diceritakan bahwa dia tidak mengambil sepeser pun royalti dari Laskar Pelangi yang sudah menembus angka 1 milyar. Apalagi kalo mengingat kata terakhir yang ditulisnya di buku ketiga, membuat saya merinding dan bergetar.

Andrea pada dasarnya hendak menceritakan bahwa, keberhasilan dan pengalaman yang dia alami, merupakan manifestasi dari mimpi-mimpi yang ditanamkan dipikirannya sejak masih kecil. Jika Andrea berhasil menginspirasi orang dengan Laskar Pelangi, di buku kedua dan ketiganya, dia seperti ingin menceritakan, bahwa Laskar Pelangi juga telah memberikan inspirasi bagi dirinya sendiri.

Ternyata saya telah keliru, menjustifikasi Andrea dengan sebegitu dangkalnya. Jadi tidak sabar menunggu karyanya yang keempat.

Ayat-Ayat Cinta yang Fenomenal

Tidak rugi rasanya, jika produser film Ayat-Ayat Cinta mengangkat buku ini ke layar lebar. Selain menceritakan keidealismean humanisme dalam Islam, film itu sendiri dibumbui lebih banyak “cinta” dibandingkan buku aslinya.

Dari awal hingga akhir buku ini, menggambarkan betapa idealnya hati seorang Fahri, yang seperti sangat “lurus” tanpa cela. Bahkan penulisannya yang menggunakan sudut pandang orang pertama, semakin menggambarkan kesempurnaan akhlak Fahri, yang seperti tidak pernah terpengaruhi oleh bisikan syaitan.

Keidealannya digambarkan pula dari latar belakangnya yang sederhana, mendapatkan istri kaya, layaknya Nabi Muhammad SAW mempersunting Khadijah, dan keteguhannya dalam menghadapi cobaan, yang dalam realitas amat sangat jarang dijumpai.

Sebenarnya saya termasuk orang yang terlambat membaca buku ini. Baru setelah menikah saya melihat buku ini dalam koleksi istri saya, kemudian tertarik membacanya karena saya pikir ini adalah buku serius tentang pemikiran. Ternyata buku ini adalah sebuah roman yang menceritakan nilai-nilai moral yang sudah banyak ditinggalkan masyarakat matrealis (termasuk mungkin saya) di dunia ini.

Sang Taiko

Untung di depan saya sudah menuliskan bahwa tulisan ini bukanlah resensi, karena sampai tulisan ini saya buat, saya baru sampai buku kedelapan dan belum menyelesaikan keseluruhan buku ini.

Taiko merupakan karya Eiji Yoshikawa yang menurut saya lebih menarik dibanding Mushashi. Bukan karena saya ingin terlihat berbeda, dengan memilih tidak mengidentikkan Eiji dengan Mushashi, tetapi Taiko memberikan pelajaran yang lebih kompleks mengenai strategi dan ambisi. (Strategi yang membuat saya akhirnya mulai bisa memenangkan War Craft III lawan teman sekantor). Walaupun faktanya Mushashi memang lebih populer di Indonesia.

Setelah menyelesaikan beberapa bab, saya merasa jalan cerita yang akan dituliskan akan ideal. Hiyoshi anak seorang samurai yang cacat akan menjadi seorang Taiko, penguasa Jepang. Mungkin kalo dimampatkan menjadi cerpen akan seperti cerita-cerita di Bobo, seorang anak petani mengalahkan raja jahat dan kemudian menjadi raja. Tapi pemaparan dalam buku ini sungguh sangat luar biasa. Banyak intrik dan liku kehidupan yang sebenarnya sangat manusiawi dan tidak ideal. Sisi inilah yang membuat menggapai mimpi dalam buku ini serasa lebih masuk akal, tidak seperti yang diceritakan dalam Lord of the Ring atau Bharatayuda.

Benang Merah Moral

Ke-malu-an (sekali lagi, sengaja diberi tanda hubung) saya yang menyebabkan tulisan ini mengalir, didasari atas kekuatan mimpi yang terkandung dalam ketiga buku di atas. Saya adalah orang yang termasuk memaknai mimpi sebagai gambaran cita-cita hidup saya. Setidaknya itu dulu. Tapi seiring terjebaknya hidup saya dalam roda matrealis, yang mengejar gaji (walaupun tidak sedramatis itu) untuk hidup dan membayar tagihan ini itu, rasanya saya mulai merasa kehilangan kekuatan mimpi itu sendiri.

Sampai pada suatu siang, saya mendapati kolega saya berpamitan untuk mencoba peruntungan di Timur Tengah, dan pada saat yang bersamaan aplikasi beasiswanya tinggal menuju tahap akhir, padahal dia baru saja menikah dan istrinya baru menyelesaikan PTT, dan sekarang menyelesaikan sertifaksi agar dapat bekerja juga sebagai tenaga medis di Timur Tengah.

Bayangkan, baru saja menikahi dokter, dapat tawaran sebagai engineer telekominukasi di Timur Tengah, istrinya bisa menyusul bukan hanya sebagai pendamping dan dapat berkarya juga, beasiswa tinggal menunggu pengumuman, dan seterusnya-seterusnya. Terdengar seperti mimpi dan ideal sekali bukan.

Saya jadi teringat ketiga buku di atas, bahwa semuanya berawal dari mimpi. Dan tiga buku itu memberikan satu tambahan yang saya lupakan, bahkan mungkin saya belum paham sebelumnya, yaitu TEKAD.

Ikal (Andrea) tidak akan menjalani hidupnya seperti yang telah dia kisahkan jika tidak mempunyai tekad. Fahri yang digambarkan begitu ideal, mempunyai kekuatan terbesar dari mimpi dan tekadnya. Bahkan Hideyoshi mempunyai lebih sedikit mimpi dari orang lain, tapi tekad yang jauh lebih besar dari orang-orang disekitarnya.

Kenapa saya tidak berani untuk kembali bermimpi, karena ternyata tekad saya mulai kendur. Tapi itulah yang sekarang terjadi.

Moralnya teman, jika sekarang kita punya mimpi mari kita bertekad untuk mewujudkannya. Jika saya mungkin sudah terlambat, saya harap anda belum terlambat. Karena harapan anda mungkin akan memacu kembali tekad saya.

Depok, 23 Maret 2008. 2:40 am

“Sial, IM3ku habis masa berlakunya!!!”

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Dear Bro’..

    Menjadi TERBAIK dan TERUNGGUL bukanlah sebuah KEBETULAN. Diperlukan adanya KERJA KERAS dan PENGORBANAN..

    ciee.. :)

    btw tidak ada kata terlambat utk bermimpi, jika merasa sudah terlambat bermimpi, sebaiknya segera sikat gigi, cuci tangan dan minum susu hangat.. biar tidurnya lelap.. dan bisa “bermimpi”.. :)

    salam,

  2. Kenapa saya tidak berani untuk kembali bermimpi, karena ternyata tekad saya mulai kendur. Tapi itulah yang sekarang terjadi.

    wah koq persis seperti yang saya alami :D
    Laskar pelangi : Bukunya andrea hirata blum saya baca, ntar nunggu waktu lowong takutnya menyita waktu :D hehehe
    Ayat-ayat cinta : mmm, amazing book, tapi ada beberapa point yg tentunya akan diperdebatkan, overall very good lah.
    Taiko : wah referensi yg bagus, ntar saya coba cari ah :)

  3. Asalkan bermimpinya jangan panjang-panjang, biar bisa cepat bangun dan melaksanakan mimpinya.


Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.