Bapak Ibu, Izinkan Aku Menikah
Jika melihat hubungan kami berdua, sebagian orang mungkin miris melihatnya. Usia kami berdua berada di pertengahan kepala dua, yang menurut orang tua zaman dulu, sudah saatnya bagi kami untuk menikah.
Kedua orang tuaku adalah tipe orang tua yang moderat, tetapi tetap mempertahankan nilai-nilai konservatif budaya jawa. Mereka termasuk orang yang memiliki hubungan sosial baik dengan lingkungan sekitarnya, dan sering dilibatkan dalam pesta pernikahan kerabat dan rekan dekat. Dalam setiap pernikahan, mereka selalu terlibat di garis depan. Terkadang yang mempunyai gawe juga sangat memperhatikan saran dari bapak ibu.
Cukup aneh memang, karena bapak ibu sendiri belum pernah sekalipun menikahkan anak-anaknya. Tetapi mental dan kedewasaan mereka sudah begitu dipercaya oleh kerabat-kerabat kami. Kalau orang melihat, pasti jika suatu saat di antara kami bertiga menikah, kedua orang tuaku sudah siap secara mental, terlepas dari urusan finansial.
Kakak lelakiku dua tahun lebih tua daripada aku, sedangkan adikku dua tahun lebih muda dari aku. Ibu dari kecil selalu menanamkan kepada kami bertiga untuk tidak buru-buru menikah, sebelum kami mapan. Permasalahannya kata mapan yang ditanamkan ibu, mempunyai ekspetasi yang sangat tinggi.
Setelah lulus dari kuliah aku dan Fritha diterima di perusahaan telekomunikasi, seperti yang memang kami impikan berdua untuk menekuni bidang ini sejak dari kuliah. Setelah lebih dari satu tahun menikah, kami merasa persiapan kami untuk menikah sudah cukup. Dari pertama kali bekerja, kami berdua sudah membuka rekening bersama, untuk tujuan tersebut.
Kala itu kami memasuki tahun ke empat dalam hubungan yang berkomitmen. Sebagian orang menyebut kami berpacaran, walaupun kami sendiri enggan menyebutnya demikian, dan emang kami tidak pernah menyatakan hal tersebut. Di mata teman-teman, kami sudah memenuhi syarat untuk menikah.
“Kurang apa coba, sudah bekerja dua-duanya, sudah mapan, sudah ada biaya, sam-sama di Jakarta, kenapa ga langsung aja menikah?” Demikian pertanyaan yang paling sering kami dengar dari teman-teman kuliah kami. Belum lagi sindiran dari teman-teman kami yang lebih alim, agar kami menyegerakan untuk menikah. Kami sendiri pun sebenarnya sangat ingin menyegerakan hal tersebut, agar lebih tenang dalam membangun hidup.
Aku Tahu Ini akan Sulit
Restu orang tua adalah setengah dari restu Allah. Ucapan itu yang sebenarnya paling takut kami langgar. Dengan pengalaman bapak ibu dalam berbagai pesta perkawinan, seharusnya mereka siap untuk mendengar kalimat, “Bapak Ibu, bolehkah saya menikah?”
Tetapi dalam kenyataannya, ternyata hal itu tidak seperti yang orang lain bayangkan. Bagiku hal ini sebenarnya sudah aku perkirakan sebelumnya. Walaupun tampak dari luar, bapak ibu sudah lebih dari cukup untuk menikahkan anaknya, atau paling tidak salah satu dari anaknya, tetapi ketika kalimat sakti itu meluncur dari mulutku dari obrolan yang sebenarnya tidak serius, tanggapan dari mereka ternyata sangat berbeda?
Kehandalan mereka dalam menangani banyak pernikahan, tiba-tiba seperti terkubur oleh kekhawatiran mereka sendiri. Sepertinya terlalu cepat bagi mereka untuk melepaskan timangan mereka selama ini kepada anaknya. Kekhawatiran mengenai kemandirian, kematangan sikap, serta kehilangan tempat curahan kasih sayang, adalah hal yang sangat dominan tampak. Tapi alasan yang dimunculkan bapak dan ibu, berputar di wilayah unggah-ungguh ngelancangi kakakku, mau tinggal di mana setelah nikah, harus menunggu adikku lulus sekalian, dan alasan-alasan lain yang substansinya tidak mengarah kepada kekhawatiran bapak ibu yang paling utama. Paling tidak itu anggapan kami kakak beradik bertiga, yang sudah merasakan perubahan bapak ibu menjelang hari tuanya.
Sebenarnya tidak ada salahnya hubungan kami berdua di mata bapak dan ibu. Mereka sangat merestui hubungan tersebut, dan memang setuju jika kami suatu saat memutuskan untuk menikah. Tetapi “kapannya” itu yang mereka berdua belum siap.
Di mata ibu bapak, Fritha sudah akrab sekali dengan keluarga kami. Sejak kuliah, di setiap lebaran Fritha selalu bersilaturahmi ke rumah. Fritha juga tidak pernah merasa keberatan jika harus menemani ibu jalan-jalan. Dan ibu juga tidak pernah merasa tidak suka kepadanya. Bahkan ketika masa-masa akhir kuliah, justru Fritha yang lebih sering menjalin hubungan, daripada aku sendiri. Fritha juga yang terus melaporkan perkembangan Tugas Akhirku kepada bapak, ketika aku mengalami hambatan yang sangat besar ketika menjalani Tugas Akhir. Bahkan sering berargumen dengan ibu mengenai banyak hal, seperti ibu dan anak kandung, yang walaupun berbeda pendapat tapi jauh dari rasa benci.
Terkadang aku merasa dia lebih dekat dengan kedua orang tuaku, dibanding aku sendiri. Sepertinya bapak ibu menemukan sesuatu yang hilang dariku dalam diri Fritha. Sesuatu yang mungkin hilang sejak aku membenamkan diri dalam aktifitas-aktifitas kampus, karena kebodohanku sendiri. Jika tidak ada Fritha, mungkin ibu dan bapak tidak mengetahui yang aku lakukan. Apakah itu positif atau negatif, besar atau kecil, yang jelas dari mulut Fritha mereka tahu kapan harus merasa bangga, mengingatkan, mendukung, atau juga melarang.
Kekhawatiran Itu
“Ibu dan Bapak tidak akan melarangmu, untuk menikahi Fritha,” kata ibu pada suatu hari. “Hanya saja, tunggu waktu yang tepat. Kalian berdua baru saja setahun bekerja. Apa tidak ingin kalian membahagiakan orang tua dulu?
“Papa Mamanya Fritha, pasti kan juga mengharapkan Fritha untuk berbakti dulu kepada orang tuanya. Lagipula Mas-mu itu baru saja putus. Punya calon saja belum, ga elok kalo kamu melangkahi dulu. Nanti takutnya Mas-mu iku bisa lara ati.”
“Papa Mamanya Fritha ga keberatan kok, Bu. Aku juga udah ngobrol ama, Mas Adi. Mas Adi malah mendukung banget,” kataku menaggapi perkataan ibu. “Lagian, kalo Ibu takutnya aku ga berbakti lagi kepada Bapak Ibu, kok kayaknya ga mungkin. Membahagiakan Bapak Ibu kan tetep bisa, meski aku wis nikah sama Fritha.”
“Tapi Nang, Bapak Ibu iku tetap melihat kalian itu belum siap. Kelihatan kalau kalian itu masih muda sekali.”
“Bu, kalo siap itu maksudnya materi aku wis ada. Pekerjaan juga udah baik. Rumah emang belum bisa tuku, sementara tapi bisa ngontrak dulu. Biaya nikah, bapak ibu juga ga usah kuatir. Semuanya udah ada plan-nya,” tukasku menggunakan kata andalanku “plan”.
“Wis toh, kalau masalah biaya saja Bapak Ibu juga sanggup. Tapi kamu itu apa tidak terlalu terburu-buru. Lha wong, Bapak saja sewaktu nikah dulu tidak semuda kamu sekarang ini.”
“Lha, tapi Fritha-kan lebih tua daripada Ibu, waktu nikah dulu…”
“Loh iya, tapi waktu itu memang usia segitu wajar. Kalau sekarang kan zamannya sudah berubah…”
“Nah iya Bu, makanya sekarang zamannya kita itu udah siap buat nikah…” potongku jengkel, mendengar jawaban Ibu yang aku anggap agak tidak logis.
“Kamu itu memang dari dulu senengane ngeyel. Apa kamu itu tidak ingin membahagiakan orang tua kamu?”
Jleg…! Rasanya seperti ditindih batu mendengar perkataan ibu itu. Seperti ada perasaan bersalah yang sangat besar kepada Ibu. Aku seperti melihat diriku sendiri seperti orang pongah yang terlalu cepat berlari mengejar impianku. Dalam hatiku aku berkeyakinan bapak ibu selalu dibelakangku mendukung impianku. Mereka tidak pernah meminta apa pun, kecuali menyaksikan kebahagiaan anak-anaknya.
Asumsi hati yang sangat bodoh. Apa aku pikir selama ini orang tua tidak memerlukan kasih dan perhatian dari anak-anaknya. Bukan berarti itu adalah kiriman uang rutin tiap bulan, bukan kiriman hadiah ulang tahun, atau oleh-oleh dari luar negeri untuk dipajang di rumah. Mereka tetap memerlukan anak-anaknya, tetap ingin selalu merengkuh mereka dalam pelukan hangatnya, merasa tetap berguna dan berarti bagi anak-anaknya.
Astagfirullah ya Allah, begitu bekunya hatiku selama ini. Semoga Kau tidak menggolongkan aku dalam golongan anak-anak durhaka kepada orang tuanya.
Ibu Peluklah Aku dalam Dekapanmu
“Mas, ga minta maaf ke Ibu, toh?” Tanya adikku dari telepon genggam yang kupegang dengan malas-malas.
“Minta maaf gimana, dik?” Pertanyaan bodoh itu meluncur dari mulutku.
“Ibu batuk-batuk terus lho, Mas. Biasa…kalo lagi akeh pikiran. Yang skripsiku belum selesai-selesai, yang Mas Adi masih demotivated gitu, yang kamu maksa mau nikah…”
“Enake ngomong gimana, ya Dik?”
“Bapak Ibu itu memang juga salah, Mas. Kadang tiba-tiba mereka bisa menjadi seperti anak kecil lagi. Kadang pemikirannya jadi tidak logis. Dasarnya mereka itu belum siap, Mas. Kamu juga dalam meyakinkan ga boleh kayak gitu.
“Aku tahu kamu itu orangnya keras, tapi ga harus tiap saat kamu keras gitu kan. Apalagi ke orang tua. Bapak Ibu itu sekarang dalam fase perubahan yang sangat besar, Mas. Fase di mana anak-anak mereka sudah tidak terlalu memerlukan peran dari mereka. Fase di mana mereka seperti sudah tidak berarti lagi buat anak-anaknya. Mereka takut anak-anaknya akan meninggalkan mereka.
“Banyak sekali dari manula-manula yang aku teliti mengalami fase ini, ketika berumur di atas 60-an tahun. Tetapi tidak menutup kemungkinan, Bapak Ibu lebih dini mengalaminya. Apalagi anak-anaknya hampir dalam waktu yang sangat singkat, pergi satu demi satu ke luar kota.”
“Iya ya, Dik ya, kayaknya aku memang salah dalam menyampaikan ke Bapak Ibu umtuk masalah ini. Kesannya jadi keburu-buru dan nggugu karepku sendiri.
“Biar, aku introspeksi dulu aja. Rasanya aku sangat merasa bersalah emang. Tapi aku malu kalo harus mengungkapkan langsung di depan Ibu Bapak.”
Tiba-tiba saja aku begitu merindukan Ibu. Terbayang kehangatan canda Bapak. Bau tembakau kering yang biasanya aku cium dari tangan Bapak setiap berpamitan, yang biasanya aku benci, tiba-tiba aku merindukannya. Aku seperti mendengar sayup-sayup roda kereta beradu dengan rel, yang menghantam bantalan dalam frekuensi yang konstan. Aku ingin pulang….
Mataku tertumpuk pada HP-ku yang sedang di-charge. SMS terakhir tadi dari Pumpy berbunyi, “Ling, masku acara nikahe karo Lusi di Cepu, tanggal 12 Januari mene. Kamu pulang ga?”
Nah, ini alasan yang bagus untuk pulang. Aku harus pulang saat ini. Aku terbiasa mencari alasan untuk pulang, agar pulangku jadi lebih bermanfaat. OK, kali ini pakai alasan ini saja, satu kali dayung dua tiga pulau terlampaui. Tapi aku berjanji, lain kali tidak perlu sebuah alasan untuk pulang ke rumah.
“Ibu…
Aku ingin pulang kali ini lagi
Maukah kau menerimaku,
Seperti engaku menyambut kedatanganku sebelum-sebelumnya.
Tak perlu kau memasak istemewa,
Jangan pula kaupaksakan menjemputku di stasiun
Biarkan aku merayapi jalan sepi sendiri ke rumah
Agar aku bisa merenung perjuanganmu membesarkan kami
Dan sesampainya di sana, biarkan aku bersimpuh di lututmu,
Menunggu keikhlasanmu memelukku
Adalah pelukan yang mudah saja kauberikan,
Karena kau tak pernah berhenti menyayangi anak-anakmu.
Ibu…
Peluklah anakmu ini dalam dekapanmu…”
2 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

tapi akhirnya nikah juga tho ded……….
hehehehehe
Comment by tea-nok — April 1, 2008 #
kudu nangis bro denger curhad mu…
Comment by jingga — November 9, 2009 #