Rumah Tangga
The Arrival
Kami kembali ke Jakarta, dalam kondisi saya masih terserang diare. Selama dalam perjalanan orang tua kami tak berhenti-berhenti menelpon, supaya tidak lupa minum obat.
Pukul 6.30 Kereta Api Sembrani yang kami tumpangi dari Cepu mendarat dengan sukses di stasiun Gambir. Kami memilih Gambir daripada Jatinegara, karena barang yang kami bawa tidak banyak, tapi buannyaaaaakkk. Walaupun Jatinegara lebih dekat dengan kontrakan yang kami tuju, lebih mudah mendapatkan taksi “jujur” di Gambir.
Rencananya pagi itu, kami langsung berangkat kantor. Kami berdua hanya mengambil cuti sampai hari itu. Capek? Hmmm, sepertinya tidak masalah. Biasanya kalo kami habis pulang kampung, kami sengaja menjadwalkan sampai Jakarta Senin pagi, dan langsung ngantor.
Sampai di rumah kontrakan pintunya masih terkunci rapat. Memang kunci belum kami bawa, mengingat sewaktu berangkat ke Surabaya kami terburu-buru. Sedangkan rumah tersebut, masih akan dicat oleh Pak Suryadi, pemilik rumah.
Saya mengambil kunci ke rumah Pak Suryadi, yang terletak di belakang kos Fritha yang lama. Saya Cuma bertemu dengan ibu Pak Suryadi, yang ternyata masih mengenali saya.
Deg-degan juga ketika mau membuka pintu. Sebelum pulang dulu, kami sempat memasukkan barang-barang ke dalam rumah. Dan kondisi rumah masih dalam keadaan yang tidak layak pakai. Kamar mandi bawah waktu itu belum dibersihkan, dapur juga masih lembab.
Saya tidak bisa membayangkan omelan Fritha kalau sudah tidak nyaman seperti itu. Biasanya dia mengungkapkan dengan kata “emosi”.
“Mas, kalo aku lapar, emosi…”
“Aku emosi. Kalo kepanasan…”
“Jangan gitu, tah. Aku emosi kalo lagi capek…”
Dan satu emosi lagi yang baru saya ketahui, ketika saya bangunkan dia malam-malam.
“Ayah, jangan dibangunin. Aku emosi kalo lagi ngantuk….”
Walah, kok jadi emosi gitu, semuanya. Padahal sebenarnya kalau dihitung-hitung, sayalah yang paling sering marah-marah, dia jarang marah. Kata emosi jadi pelampiasan dia kalo sedang bete, tanpa harus marah-marah seperti saya.
Ternyata ketika memasuki rumah, keadaannya tidak seburuk yang kami bayangkan. Dinding sudah dicat, lantai sudah dibersihkan, bahkan mungkin juga dipel dengan Tinner B, seperti rumah kami di Cepu sewaktu selesai direnovasi dulu. Kamar mandi pun juga sudah disikat, hanya kamar mandi di lantai dua masih meninggalkan cermin yang kotor, bahkan akhirnya saya memutuskan tidak menurunkan cermin itu, karena kayunya sudah lapuk.
Permasalahannya barang-barang yang kami masukkan sebelum berangkat dulu, masih “rapih” berada di kamar belakang yang terkunci rapat. Dan seperti biasa, tampaknya Fritha tidak tahan melihat barang yang belum dirapikan seperti itu.
“Hhhh, aku emosi kalo lihat barang berantakan kayak gini…”
Jadilah hari itu kami memperpanjang cuti buat satu hari, untuk membereskan barang-barang, dan merapikan untuk sementara. Beberapa barang terpaksa diletakkan di lantai dulu, karena kami belum banyak memiliki rak dan lemari.
3 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

Ditunggu tulisan berikutnya pak Dedhi
Comment by fajar — November 13, 2007 #
mana updatenya neh
Comment by satubintang — December 3, 2007 #
??????????………..
Comment by tea-nok — April 1, 2008 #